Kamis, 20 Oktober 2011

Semeleh....

 Bismillaahirrohmaanirrohiim

Semeleh….

Orang jawa bilang namanya Semeleh. Kalau dalam bahasa arab sih bisa diartikan tawakkal, begitu. 

Lantas apa hubungannya?

Jelas ada. Karena kata satu itu adalah suatu hal yang ingin aku perbuat saat ini. Semeleh. Tawakkal. Berpasrah pada Allah setelah mengupayakan ikhtiar sekuat tenaga. 

Ya aku ingin semeleh pada Allah
Menyerahkan apapun yang dilematis di hatiku pada-Nya. Kenapa juga aku memusingkan semuanya. Jika Sang Maha Pengendali telah mengatur segala-galanya. 

Ya Allah, itulah yang hamba ingin lakukan saat ini

Bersemeleh pada-Mu

Bertawakkal pada-Mu

Berpasrah pada-Mu

Karena hamba sudah sampai pada titik di mana hamba merasa bahwa memang inilah posisi hamba. Manusia biasa yang hanya diwajibkan berusaha tanpa pernah tahu hasilnya akan berakhir bagaimana. Yang hamba bisa hanyalah berusaha dan mengusahakan. Adapun hasil akhirnya, itu Engkau yang memutuskan

Karena bersemeleh ternyata lebih menyamankan hati

Karena bersemeleh ternyata lebih menentramkan hati

Karena bersemeleh berarti hamba telah sepenuhnya meyakini

Semeleh…only semeleh
:)
20-10-2011
Menjelang tengah malam
Ketika kucoba memasrahkan semuanya
Hanya pada-Nya, Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya

Selasa, 04 Oktober 2011

This is About Me :)



Bismillaahirrohmaanirrohiim….
Assalamu’alaikum….

            Lama tak jumpa….kali ini aku pengen nulis tentang apa yang barusan aku alami. Sebenernya  ini hasil dari kontemplasi dan renunganku selama menjalani dunia coass sih. Jadi gini nih, aku pengen sedikit mengklarifikasi tentang beberapa komentar temen-temen tentang aku. Hampir tujuh bulan sudah aku menjalani dunia coass, dan di kawah per-coass-an ini aku nggak hanya belajar tentang dunia kedokteran aja, yang paling penting (menurutku) adalah belajar menghadapi sifat dan karakter orang-orang yang aku temui selama menjadi dunia coass. So, berawal dari situ, aku pingin nulis posting-an ini.

Sering aku bertanya sama temen-temen yang udah lama aku kenal maupun yang baru aja aku kenal. 

Sebenernya menurut kamu Ama itu orangnya gimana sih????

Banyak jawaban beragam.

“Ama, kamu itu orangnya tegas. Kalau ngomong tek!…tek!…tek!…nggak pakai basa-basi”

“Kamu itu orangnya keras, Am. (Keras dalam arti disiplin, tegas, dan kadang agak tegaan plus nggak pandang bulu sama orang-orang yang menurut Ama salah)

“Ama, kayaknya dalam kehidupan kamu itu cuma ada dua warna. Hitam dan putih alias salah dan benar. Nggak ada abu-abu. Padahal dunia kita ini hampir semua orang didominasi oleh warna abu-abu lho, Am”

“Ama itu orangnya keras kepala. Kalau punya prinsip bener-bener teguh dikerjain. Kalau punya keinginan harus diturutin. Urusan sama Ama susah dilobinya. Susah diajak kompromi. Kompromilah dikit, Am. Kita hidup bermasyarakat itu perlu sedikit kompromi”

“Ama itu orangnya idealis”

“Ama itu coass yang terlalu fisiologis. Belajar pato dikit lah, Am…”

“Kalau ada istilah kepribadian sanguinis, flegmatis, dan teman-temannya. Maka Ama itu seorang melankolis sempurna”

“Ama….panikan…..cemasan”

“Ama itu ekspresionis….”

“Ama…cerewet…apalagi kalau udah kenal deket”

“Ama itu diam-diam menghanyutkan. Pertama kenal sih orangnya kayanya pendiam dan kalem. Tapi ternyata pas udah kenal lama, ternyata orangnya cerewet dan ceriwis. Sukanya cerita”

“Ama itu orangnya seriusan. Susah diajak gojek”

“Ama…wajahmu itu wajah intelek. Jadi, orang kalau mau ngomong sama kamu tuh segan” (ini komentar yang paling mengagetkan buat aku. Emang wajah intelek itu sing kaya piye???)

“Ama…mirip teh ninih deh!” (Gubrakkkk….!!)

And so on.

Oke, intinya kalau aku menarik kesimpulan dari beberapa komentar temen-temen tentang aku. Menurut mereka, aku ini orangnya tegas, keras, berprinsip, idealis, dan kalau dalam dunia coass cenderung terlalu fisiologis. Bener nggaknya aku nggak bisa memastikan, karena buat aku yang namanya sifat dan kepribadian itu memang orang lainlah yang bisa menilai secara obyektif. Tapi, overall, apa yang temen-temen bilang tentang aku, aku akui, ada benernya juga. Memang itulah aku.

Kadang aku merasa sifatku yang tegas dan nggak suka basa-basi ini akan banyak tidak disukai orang. Dan ternyata memang begitulah, apalagi di dunia coass. Udah berulang kali aku “bentrok” dengan beberapa temen yang nggak sejalan sama prinsipku. Buat mereka, aku terlalu saklek, terlalu kaku, terlalu idealis, terlalu fisiologis. Padahal jadi coass itu perlu trik-trik. Harus pinter-pinter menempatkan diri. Kadang harus selicin belut, kadang harus setajam silet, kadang perlu cari muka, dan banyak trik-trik lainnya.

Oke, di satu sisi, aku setuju dengan mereka. Tapi di sisi lain, aku kurang setuju. Butuh waktu tujuh bulan ini aku belajar tentang pribadiku dari komentar-komentar mereka. Sempat aku tak terima. Buat aku, justru pribadiku inilah yang benar. Dan aku tetap teguh bertahan dengan semua karakterku yang sangat fisiologis itu. Tapi, aku pun pernah mendapati suatu fase di mana akhirnya aku mencoba mengalah. Mencoba berubah untuk bisa seperti yang mereka mau. Ama yang sedikit mau berkompromi dan santai. Namun, ketika menjalani pribadi seperti itu aku merasa tidak tahan. Rasanya seperti bukan aku.

Hingga…akhirnya…aku tersadar…bahwa ternyata menjadi diriku sendiri adalah yang ternyaman. Ya, aku tak bisa membohongi hati, kawan. Inilah aku, Ama. Dan tolong terimalah aku apa adanya…

Jadi, saat ini…

Aku sedang mencoba belajar. Belajar dan terus belajar. Menjadi manusia yang proporsional. Mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisi.
Ketika kondisi memaksaku untuk serius, aku akan serius.
Ketika kondisi memintaku untuk sedikit bersantai, oke, aku akan santai.
Ketika banyak hal tak beres terjadi di sekelilingku, baiklah, aku akan menjadi seorang melankolis sempurna yang akan berusaha untuk menyelesaikannya.
Ketika ada beberapa hal dalam hidupku yang ternyata berjalan tak sesuai dengan yang aku harapkan, maka aku akan mencoba menjadi pribadi yang flegmatis damai.
Ketika suasana seperti “kuburan” yang hanya diisi kebisuan terjadi di antara kita, aku siap menjadi seorang sanguinis yang membuat dunia kita ceria.
Ketika kamu, kamu, dan kamu tak juga mau bekerja sesuai kesepakatan kita, maka jangan marah jika aku mengambil alih semuanya karena sifat koleris yang aku punya.

Contoh realnya begini :
Aku memang tak bisa memberi kalian contekan saat ujian. Karena buat aku, jujur itu nomor satu. Karena buat aku, membantu teman itu tak harus dengan memberi contekan saat ujian. Bantuan itu bisa diberikan dalam wujud lain. Misalnya :
Pinjam buku catatanku, silakan.
Meng-copy buku catatanku, silakan.
Bertanya pelajaran yang sulit padaku, silakan (kalau aku bisa menjawab akan aku jawab). Meminjam dan menyalin tugas-tugasku, monggo.
Meng-copy paste laporan-laporanku (dengan seizinku), sah-sah aja.
Mengajakku berdiskusi tentang masalah kalian, dengan senang hati akan aku lakukan.
Belajar kelompok, sungguh itu lebih aku sukai daripada kita tirunan saat ujian.

Menurutku, cara-cara itulah yang disebut membantu. Membantu yang mendidik, tentunya. Membantu yang ingin membuat aku, kamu, kita semua menjadi pribadi yang baik. Membantu, yang dengan bantuan itu, Allah ridho padaku. Membantu, yang dengan bantuan itu, semoga mampu mengantarkan aku dan kamu masuk ke surga-Nya dan aku bisa mendapat pahala.
Coba, kalo tirunan, apakah itu sesuatu hal yang diridhoi Allah? Apakah itu bisa mengantarkan kita ke surga? Anak kecil pun tahu itu dosa dan tidak akan mendapat pahala. Karena semua sudah jelas, hitam di atas putih, bahwa apapun niat kita, sebaik apapun niat kita, jika kita menempuhnya dengan cara yang tidak jujur dan tidak diridhoi-Nya maka itu tetap akan sia-sia, takkan berpahala, dan malah menyeret kita ke neraka. Na’udzubillahi min dzalika.


So….
Aku memang keras. Tapi sungguh, jika kalian tahu isi hatiku. Aku pribadi yang lembut dan penyayang lhooo….(nggak bermaksud membela diri sendiri sih, hehe)
Aku memang tegas, tapi aku pemaklum
Aku memang idealis, tapi aku realistis
Aku memang pencemas dan panikan, tapi itu karena aku seorang perencana dan berpikir jauh ke depan
Aku memang serius, tapi aku pun juga bisa tertawa dan bercanda (meski kadang jayus, tapi yang penting kan usaha, iya nggak ??? ^^v)
Aku memang ekspresionis, tapi aku selalu sama depan dan belakang, kalau ngomong emang apa adanya dan nggak suka basa-basi (so, bukan tipe orang yang bermuka dua, insyaAllah)
Aku memang cerewet, tapi aku cerewet hanya pada orang yang aku nyaman
Aku memang keras kepala, tapi sungguh, aku paling suka dikritik
Aku memang melankolis sempurna, lantas adakah yang salah dengan sifat itu??? Semua orang punya pribadinya masing-masing kan?? Yang penting bisa menempatkan diri aja…
Aku memang terkadang terlalu fisiologis, tapi aku nggak fisiologis-fisiologis amat kok, buktinya aku juga pernah colut ke kantin buat makan ato ke kamar coass buat tidur, iya nggak???
Kalau kalian memang segan berkenalan denganku karena wajahku yang terkesan serius dan intelek, maka coba deh kalian senyum sama aku, pasti aku akan bales dengan senyum termanisku kok (hehe….narsis dikit :p)
Kalau kalian bilang aku mirip Teh Ninih, sorry, untuk yang satu ini aku no comments, hehe, tapi aku lebih menghargai kalau kalian bilang Ama itu ya Ama, nggak mirip siapapun, oke???

Pada intinya, jika kalian ingin mengenal seseorang lebih dekat, maka jangan hanya dengar ceritanya dari perkataan orang-orang saja, sesekali duduklah bareng dengan orang yang ingin kalian kenal itu, bicaralah dari hati ke hati dengannya, pahami dirinya, maknai pola pikirnya, dan akhirnya kalian akan tahu bagaimana ia sebenarnya…

So, inilah aku, dan selamat berkenalan denganku….:)


Minggu, 25 September 2011

Let's Talk About Soulmate

Bismillahirrohmaanirrohiim

-catatan redaksi
Habis lebaran ini banyak ya temen2 yang nikah, subhanallah....keren deh mereka...berani mengambil keputusan buat nikah muda...kamu mupeng ya Am??? dikit sih, tapi aku realistis aja, aku masih belum dewasa untuk berganti status dari anak mama jadi istri orang...tapi nggak ada salahnya kan kalau aku mulai belajar...nyicil-nyicil baca-baca buku begituan (tentang nikah)...Nah, aku pengen re-post tulisanku di blogku yang lama..tentang masalah jodoh..hehe..jadi malu ni nulis ginian, tapi nggak papa deh ya, itung2 belajar...halaaah...yuk simak tulisan di bawah ini...Let's talk about soulmate ^__^)


Jujur saja, bicara masalah seperti ini selalu saja membuat rasa penasaran saya muncul. Memang, jodoh itu adalah rahasia Alloh. Kita tidak tahu siapa yang bakal menjadi jodoh kita. Tapi sewaktu kita masih dalam kandungan ibu, Alloh sebetulnya sudah memberitahukan masalah umur kita, rezeki kita, dan jodoh kita nanti siapa.
Ketika SMA dulu saya pernah ikut kajian yang kebetulan temanya masalah “cinta” begitu. Saat itu pertanyaan yang diajukan teman-teman kepada ustadz masih sebatas dalam urusan cinta anak remaja, seperti:
“Ustadz, pacaran itu boleh gak?”
“Ustadz, boncengan sama temen cewek yang bukan mahram itu boleh gak?
“Lha terus gimana dong kalo kita suka sama seseorang?”
Dan banyak pertanyaan cinta ala abege sejenis itu. Namun, entah mengapa saya memberanikan diri untuk bertanya masalah yang lebih dari sekedar urusan romansa cinta anak SMA. Saya ingat betul, waktu itu saya bertanya lewat secarik kertas dan tanpa identitas. Pertanyaan saya,
“Ustadz, bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang itu adalah jodoh kita?”
Agak lama ustadz diam. Mungkin kaget kali ya, anak SMA kok udah nanya urusan begituan, hehe. Tapi tak lama kemudian, ustadz menjawab.
“Ketika kita sudah melakukan ijab qobul dengan seseorang, maka pada saat itulah kita tahu bahwa orang tersebut adalah jodoh kita”, begitulah ustadz menjawab.
Jeng..Jeng..jawaban yang bagus. Tapi, waktu itu cuma saya telan mentah-mentah saja. Maklum, masih SMA. Belum berpikir terlalu jauh sampai ke situ. Istilahnya, mikir pelajaran aja udah puyeng apalagi mau mikir sampai pernikahan.
Tetapi…
Kasusnya beda kalau sekarang. Sekarang saya bukan lagi anak SMA, saya sudah jadi mahasiswa gitu lho. Mau tidak mau, suka tidak suka, nyampe gak nyampe, emang udah harus mikir masalah begituan (baca: pernikahan).
Kembali ke masalah jodoh. Tak bisa dipungkiri bahwa jodoh itu adalah hak prerogatif Alloh. Saya sangat suka kalau ada pasangan suami-istri yang bercerita tentang kisah bagaimana mereka bisa bertemu dengan pasangannya. Mungkin anda perlu coba. Awalnya memang aneh, secara, hal itu adalah urusan pribadi masing-masing pasangan. Tapi kemudian, anda akan menemukan banyak sekali pelajaran, kisah, romantisme, dan keunikan dari cerita-cerita mereka. Apalagi, kadang mereka bercerita sambil malu-malu, senyum-senyum, dan jujur saja itu bisa membantu mencairkan suasana antara suami isteri tersebut. Selain itu, acara wawancara ini juga bisa merekatkan silaturrahim antara kita sebagai reporter dan mereka sebagai narasumber. Dan inilah beberapa kisah yang saya temui.

Cinta Pada Pandangan Pertama
            Urusan cinta yang bermula dari sini banyak sekali kasusnya. Gak usah jauh-jauh, contoh realnya sih orang tua saya sendiri. Kata almarhum ayah saya sih, dulu bisa suka sama mama saya gara-gara pernah ketemu di masjid agung Solo. Eh ternyata setelah ditelusuri, rumah kontrakan mama saya waktu SMA sebelahan sama kost-kostan ayah saya waktu kuliah.
            Pernah suatu saat, saya tanya ke ayah saya almarhum. “Bapak, apa sih yang membuat bapak begitu mantap untuk mempersunting mama sebagai istri?
            Ayah saya bilang, “Waktu bapak lihat mama pertama kali, feeling bapak berkata, Inilah dia, wanita yang nantinya pantas menjadi ibu dari anak-anakku”….Huaa, so sweet deh. Saya jadi pingin. Hehe. Dan akhirnya…lahirlah seseorang yang menulis artikel ini, hehe.

Kesan Pertama Begitu Menggoda
            Kayak slogan iklan aja yaa, hehe. Cinta yang bermula dari sini juga cukup banyak. Ada sebuah kisah tentang seorang ikhwan yang menikah dengan seorang akhwat. Waktu ditanya kok bisa ketemu, si ikhwan menjawab. “Istri saya itu dulu adik kelas saya saat SMA. Dulu waktu kami SMA, istri saya itu pernah ada pelajaran olahraga basket. Saya amati, tiap dia dapat giliran masukin bola ke ring, selalu saja gagal. Lucu sekali wakti itu. Karena dia gak bisa-bisa masukin bola, saya jadi penasaran sekaligus terkesan. Akhirnya muncul keingintahuan saya pada gadis itu. Dan, akhirnya setelah perjuangan untuk mengenalnya lebih jauh, kami pun bisa menikah, dan itu tanpa pacaran. Alhamdulillah.  
            Ehm..ehm..ini juga so sweet. Kesan Pertama Begitu Menggoda, Selanjutnya Terserah Anda. Eittss…tapi terserah di sini harus ditindak lanjuti dengan cara yang benar dan sesuai syar’i, bukan terserah yang bebas dan seenak perut sendiri. Contoh tindak lanjut yang syar’i misalnya, datangi rumah si akhwat, temui orang tuanya, utarakan maksud untuk melamar, terus nikah, terus habis itu ya terserah, orang udah nikah, hehe.

Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
            Aduh ini juga banyak kisahnya. Banyak pasangan yang akhirnya menikah dan setelah ditelusuri lebih jauh, mereka dulunya adalah sahabat. Ya mungkin karena sudah berteman lama dan bersahabat begitu akrab, jadi tidak ada kecanggungan lagi. Kedua belak pihak sudah saling mengenal karakter dan pribadi masing-masing. Hehe, saya jadi ingat guyonan-guyonan di kampus saya tercinta. Kebetulan saya kuliah di fakultas kedokteran, dan tahu sendirilah yang namanya kedokteran itu jadwalnya sibuk bukan main. Sampai-sampai untuk kenal dengan mahasiswa yang di luar fakultas amat jarang bisa dilakukan. Tiap hari orang-orang yang ditemui ya itu-itu saja. Makanya, banyak yang akhirnya menikah dengan teman-teman sesama fakultas. Akhirnya slogan “witing tresno jalaran soko kulino” sering diplesetkan menjadi “witing tresno jalaran ora ono sing liyo”, hehe. Ada-ada saja ni..

Lewat Seorang Teman
            Sebetulnya tidak hanya teman, bisa lewat orang tua, bisa lewat ustadz, dan wasilah-wasilah lain. Istilahnya kayak lewat mak comblang begitu. Bisa jadi nikah yang dijodohkan begini, awalnya si suami tak kenal dengan si istri dan si istri pun tak pernah tahu wajah si suami. Memang, cinta adalah perekat hubungan dan penting dalam sebuah pernikahan. Namun, pernikahan yang awalnya tiada saling kenal dan belum tumbuh benih-benih cinta di dalamnya, bisa saja bertahan dan tetap langgeng. Karena rasa cinta itu tumbuh setelah pernikahan. Ah, jadi ingat buku favorit saya, karyanya Salim A. Fillah yang judulnya Indahnya Pacaran Setelah Pernikahan. So, sweet. Hehe. Mungkin anda perlu baca juga..

            Kisah yang saya hadirkan ini memang baru beberapa dan belum mampu menjabarkan semua. Tapi ada satu hikmah yang bisa dipetik darinya. Bahwa jodoh itu rahasia Alloh. Bisa jadi jodoh kita adalah orang yang baru saja kita kenal, atau bisa jadi orang yang sudah lama kita kenal, bisa jadi jodoh kita rupanya teman sekelas kita, atau malah bisa jadi jodoh kita orang yang tinggal di belahan dunia lainnya, bisa jadi jodoh kita adalah orang yang kita jumpai di dunia maya, bisa jadi pula jodoh kita ternyata tetangga kita sendiri. Memang ya, urusan jodoh sangat misterius. Tapi satu hal yang pasti, setiap orang sudah Alloh tuliskan jodohnya masing-masing. Jodoh kita sudah ada, entah siapa dia dan dimana dia, itu yang sekarang masih samar.
            Saya selalu punya imajinasi sendiri tentang masalah jodoh ini, saya selalu membayangkan bahwa jodoh saya itu tersembunyi dalam sebuah kotak atau bersembunyi di balik tabir. Kotak itu sudah saya bawa dan tabir itu sudah berdiri di depan saya. Tapi, kotak itu saat ini belum bisa saya buka dan tabir itu belum bisa saya sibak. Karena memang belum waktunya. Namun, jika Alloh menghendaki saya untuk membuka kotak dan menyibak tirai tabir tersebut, saya akan melihat sebuah nama tertulis dalam kotak itu dan sesosok ikhwan berdiri di balik tabir itu. Ikhwan itu tersenyum seolah berkata ayo kita raih cinta Alloh lewat menikah. InsyaAlloh aku adalah jodohmu. Huaaaaaa, imajinasi yang aneh dan sedikit nyeleneh, hehe. -____-", cape deh...


            Permasalahannya, kalau kita bertemu jodoh kita nanti, sudah siapkah kita??? Karena dalam surat An-Nuur ayat 26 Alloh berfirman bahwa wanita yang keji untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji untuk wanita yang keji. wanita yang baik untuk laki-laki yang baik, dan Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik”. Ya itu benar sekali, saya setuju akan hal itu. Jodoh kita adalah seseorang yang di mata Alloh pastinya kufu dengan kita. Sekali lagi, di mata Alloh lho. Kalau di mata manusia sih bisa menipu. Jadi, ingatlah selalu bahwa jodoh kita adalah cerminan diri kita. Istilahnya kalau kamu mau memimpikan Ali, ya kamu harus jadi Fathimah dulu, betul begitu?? 

Senantiasa berdo'a.  
"Ya Allah, jika memang saat yang tepat telah tiba, suatu hari nanti. Pertemukanlah kami dengan baik-baik. Karuniakanlah kepada hamba seorang suami yang bisa menjadi imam untuk hamba. Yang bisa membimbing hamba untuk meraih cinta-Mu. Yang bisa menjadi sarana hamba untuk beramal kepada-Mu. Yang bisa menjadi tempat hamba bertanya ketika hamba ingin tahu masalah agama. Yang bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak hamba nantinya. Yang bisa menjadi tempat bersadandar kala lelah mendera. Yang bisa jadi tempat berbagi cerita, tak hanya suka dan tapi juga duka. Yang mau menerima kekurangan dan kelemahan hamba dan bisa menutupinya dengan kelebihan yang ia punya. Yang tepat dan terbaik, menurut Allah Azza wa Jalla. Dan semoga, begitupula hamba untuk dirinya. Saling melengkapi satu sama lain. Ketika tidak ada lagi kata aku dan kamu, yang ada hanya kita. Ketika tidak ada lagi ini egoku atau egomu, melainkan demi kebaikan bersama."

Ditulis setelah melihat fenomena di sekelilingku
Sindrom 20 tahunan bertebaran di mana-mana
Semoga saya tidak ketularan, hehe
Tapi insyaAllah saya akan mencoba belajar
Eaaaaa.....>.<"

IKM jilid 1 : Sekapur Sirih tentang IKM ^__^


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum…..^___^


Medical experience, again ! Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku di stase ketigaku. Kebetulan, tepat seminggu sebelum Ramadhan kemarin, aku sama temen-temen sekelompok coass-ku secara resmi telah menjadi coass stase Ilmu Kesehatan Masyarakat atau IKM. Stase ini katanya sih stase hura-hura alias stase jalan-jalan. Lumayan santai kalau dari kegiatannya. Tapi, karena kemarin aku sama temen sekelompokku dapet puskesmas yang paling jauh dan ngepasi puasa, jadi menurut aku stase ini nggak santai-santai amatlah, hehe. Penuh cobaan lah pokoknya, tapi dari situlah kami semua belajar (apalagi aku) tentang banyak hal. Pokokmen mantep deh hikmahnya ^__^b

Kami ada delapan orang yang nantinya terbagi jadi dua kelompok kecil, masing-masing empat orang. Aku kenalin satu-satu deh ya. Pertama, tentu aja aku sendiri, Ama. Terus ada temenku yang jenius banget, si Ucha. Terus, ada si mungil yang pinter juga, Dita. Ada Anis, yang jago presentasi. Ada Irma, yang suka menolong dan baik hati. Ada Nina, yang santai dan easy going banget. Ada Mba Sari, anggota kelompok yang paling senior, hehe. Dan tentu saja ada Galih, the only man in this group. Itulah teman-temanku yang sangat kompak di IKM ini.

Seminggu awal, kegiatanku cuma bimbingan di fakultas sama staff IKM yang baik hati dan banyak memberikan ilmu. Pernah ya, dalam sehari aku bimbingan dari pagi sampe sore sama salah satu Profesor di fakultas. Dan itu capek banget…bener-bener udah nggak konsen sama materinya, dan materinya itu tentang statistik yang udah jelas aku males banget buat mempelajarinya…nggak ngerti aku sama ilmu satu itu…I don’t know why..T__T

Nah, minggu kedua, adalah minggu pertama puasa. Kami pun udah mulai belajar di  luar fakultas. Kebetulan pas diundi kami dapet di daerah Sukoharjo. Otomatically, selama lima minggu ke depan kegiatan kami full di daerah tersebut. Tiga hari awal kami belajar di DKK Sukoharjo. Cukup banyak pelajaran yang bisa diambil. Jadi tahu, ternyata dunia per-DKK-an itu seperti itu. Bener-bener administratif, sibuk, dan tiap hari kerjaannya membuat dan mengevaluasi semua kebijakan-kebijakan dalam bidang kesehatan (nggak tipeku banget deh kayaknya…T_T). Di DKK kami dibagi jadi dua kelompok kecil, yang itu artinya masing-masing kelompok akan ditempatkan di puskesmas yang berbeda. Kelompok si Ucha yang terdiri dari Dita, Irma, dan Nina dapet di Puskesmas Polokarto. Lumayan deket. Sekitar setengah jam katanya kalau naik mobil dari kampus. Nah, kalau kelompokku, kebetulan dapet puskesmas yang paling jauuuh…di Kecamatan Weru…dan di sana aku bareng sama Anis, Galih, dan Mba Sari. 

Masuk ke tiga hari berikutnya dalam minggu kedua itu, kami belajar di RSUD Sukoharjo. Banyak hal yang kami pelajari juga di sini. Terutama tentang Sistem Kesehatan Nasional yang mengacu pada Referal System alias Sistem Kesehatan berjenjang. Bahasa gampangnya sih sistem rujukan. Jadi, ketika ada pasien sakit, mestinya di bawa dulu ke pusat kesehatan primer seperti puskesmas ataupun praktik dokter pribadi. Kalau bisa tertangani, cukup sampai di situ. Kalau ternyata butuh penanganan lebih lanjut atau misalnya kasusnya di luar kompetensi dokter umum, maka si Primary Health Care tadi harus merujuknya ke Secondary Health Care yang ada di atasnya, rumah sakit daerah misalnya. 

Nah, kalau masih belum bisa tertangani juga, barulah pasien di rujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang tertinggi yaitu Tertier Health Care, misalnya RS tipe A yang pelayanan kesehatannya udah holistik dan komprehensif. Nah, idealnya sistem kesehatan berjenjang itu mestinya begitu. Jadi nggak bisa langsung main lompat gitu aja. Kecuali kalau kasusnya darurat, itu lain ceritanya. 

Salah satu topik asyik yang jadi bahan kami diskusi adalah tentang sistem jamkesmas. Ini sih udah sering aku jumpai di RS tempat aku biasa coass pas di Solo. Tapi selama ini aku cuma sebatas tahu jamkesmas karena itu ada kaitannya sama jenis resep yang diberikan pas di RS Solo dulu. Misalnya, pasien jamkesmas resep obatnya warna kuning, resep pasien Askes warna hijau, kalau resep pasien umum dan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang warna pink. Udah, aku taunya cuma sebatas itu. Kenapa dibedakan warnanya? Ya itu sih ada hubungannya dengan fasilitas dan jenis obat yang diberikan untuk pasien jamkesmas yang tentu aja beda dengan kalau bayar pakai cara lain. 

Misalnya, pasien jamkesmas itu selalu masuk kamar kelas III, nggak boleh kamar kelas II atau malah kelas I, terus jenis obatnya pun udah dijatah. Kalau misalnya dapet obat yang di luar daftar obat jamkesmas, udah pasti nggak bakal dapet. Ya ibaratnya, ada konsekuensi yang harus diterima kalau kita menggunakan fasilitas dengan gratis…tis…tis! 

Nah, tentang jamkesmas cuma yang superfisial gitu aja yang aku ngerti. Kalau ribetnya RS dan DKK mengatur klaim jamkesmas, jujur, aku masih belum terlalu paham. Tapi, alhamdulillahnya, di IKM ini aku belajar itu…jadi udah jauh lebih pahamlah sekarang, meskipun ga dalem-dalem amat). Kan emang di IKM ini kita –sebagai calon dokter- belajar tentang managerial sebuah sistem kesehatan seperti yang udah termaktub dalam Five Stars Doctor-nya WHO. Sedikit dibahas boleh deh yaa…Apa sih five Stars Doctor itu???


Five Stars Doctor adalah sebuah paradigma yang sebetulnya udah dibentuk sejak zaman Hipocrates dulu, yang kemudian di masa sekarang paradigma itu mulai didengung-dengungkan, bahkan udah dicanangkan bahwa semua dokter umum harus mampu memiliki lima sifat yang ada dalam five stars doctor itu. Intinya adalah, ada lima hal yang membuat seorang dokter itu dikatakan baik. Apa aja? 

  1. Care Provider. Nama Indonesiannya adalah penyedia layanan kesehatan. Seorang dokter mestinya harus mampu menyediakan sebuah pelayanan kesehatan ketika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya. Ya mestinya tugas dokter kan emang itu, ya nggak?
  2. Decision-maker. Maksudnya adalah pembuat keputusan. Bayangin kalau sebagai dokter kita menemui kasus darurat yang butuh penanganan segera. Kita nggak mungkin kan harus buka buku dulu, atau searching di internet dulu, atau tanya sama dosen dulu. Ya iyalaah..!!! Keburu pasien kita sekarat kalo gitu caranya. Nah, inilah yang membuat seorang dokter beda dari profesi lainnya. Karena terkadang dokter dituntut cepat dan tepat untuk membuat keputusan apalagi jika di depannya udah ada pasien yang sedang meregang nyawa. Jadi, dokter kok angel yooo ternyata, hiks!
  3. Communicator. Nah, ini keterampilan yang susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Sampe sekarang aja aku masih belum bisa menguasai keterampilan ini secara sempurna. Padahal komunikasi itu hal yang sangat vital dalam hubungan dokter-pasien. Dokter perlu mempersamakan persepsi antara dirinya dengan pasien. Misalnya gini nih, suatu saat kita sebagai dokter ketemu sama pasien yang orangnya katrok banget, nggak ngerti teknologi, bener-bener awam, mestinya cara kita menerangkan sakitnya beda dengan kalau pasin kita seorang guru besar, yang tiap hari kerjaannya ngisi seminar sana sini, masa komunikasinya mau sama??? Jelas beda kan??? Trus misalnya kita ketemu sama pasien kanker yang udah stadium 4, yang udah tinggal menunggu waktu dijemput malaikat maut, hayoo…mesti butuh teknik-teknik komunikasi tertentu kan??? Nah, itulah pentingnya keterampilan komunikasi buat seorang dokter. Emang gampang-gampang susah dan susah-susah gampang sih. But, nggak ada kata terlambat buat belajar. Justru dengan kita banyak bertemu pasien dari situlah kita dapet banyak pelajaran. Iya nggak??? ^__^
  4. Community Leader. Dokter pastinya juga manusia. Dia hidup dalam masyarakat juga. Dan biasanya dokter dinilai agak punya nilai lebih dalam hierarki kemasyarakatan. Dan justru karena itulah omongan pak dokter dan bu dokter biasanya lebih didengar. Nah, peran seorang dokter salah satunya adalah pemimpin (dalam hal kesehatan) di kampungnya. Misalnya ada wabah DBD di suatu daerah, udah banyak anak kecil jadi korban, masa si dokter mau diem aja?? Nggak kaaan…Nah, dokter perlu bertindak –sebatas kompetensi yang ia punya- untuk menjadi pemimpin dan penggerak dalam bidang kesehatan di masyarakatnya.
  5. Manager. Bentar..bentar…ini mau cerita soal dokter apa mau cerita perusahaan sih? Eh, jangan salah ya, dokter itu juga dituntut buat jadi manager yang baik lho. Kenapa ini penting? Bayangin aja. Semandiri-mandirinya seorang dokter, ia nggak mungkin kerja sendirian. Ia tetap butuh perawat, butuh bidan, butuh teman sejawat lain, butuh tenaga administrasi, dan banyak orang lainnya (ini kalau di puskesmas ya). Contoh gampangnya lainnya deh, tim operasi. Ada operator 1, operator 2, asisten 1, asisten 2, terus ada perawat yang ngurusin surgery tools-nya, terus ada dokter anestesinya, dll. Jadi dokter nggak mungkin kerja sendiri. Dia perlu keterampilan jadi seorang pengatur alias manager yang handal. Dan itu butuh belajar…belajar…dan terus belajar..
Nah, dari lima sifat dokter bintang itu, community leader dan manager adalah keterampilan yang akan aku pelajari di Stase IKM ini. Tapi, kayaknya aku nggak bisa nulis semua deh dalam satu postingan. Jadi aku bikin bersambung aja ya ceritanya. Hehe..biar seru dan penasaran. Oke?? Untuk cerita IKM jilid 2, harap menunggu dengan sabar yaaaa…arigato gozaimashita ^___^v