Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 September 2011

IKM jilid 1 : Sekapur Sirih tentang IKM ^__^


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum…..^___^


Medical experience, again ! Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku di stase ketigaku. Kebetulan, tepat seminggu sebelum Ramadhan kemarin, aku sama temen-temen sekelompok coass-ku secara resmi telah menjadi coass stase Ilmu Kesehatan Masyarakat atau IKM. Stase ini katanya sih stase hura-hura alias stase jalan-jalan. Lumayan santai kalau dari kegiatannya. Tapi, karena kemarin aku sama temen sekelompokku dapet puskesmas yang paling jauh dan ngepasi puasa, jadi menurut aku stase ini nggak santai-santai amatlah, hehe. Penuh cobaan lah pokoknya, tapi dari situlah kami semua belajar (apalagi aku) tentang banyak hal. Pokokmen mantep deh hikmahnya ^__^b

Kami ada delapan orang yang nantinya terbagi jadi dua kelompok kecil, masing-masing empat orang. Aku kenalin satu-satu deh ya. Pertama, tentu aja aku sendiri, Ama. Terus ada temenku yang jenius banget, si Ucha. Terus, ada si mungil yang pinter juga, Dita. Ada Anis, yang jago presentasi. Ada Irma, yang suka menolong dan baik hati. Ada Nina, yang santai dan easy going banget. Ada Mba Sari, anggota kelompok yang paling senior, hehe. Dan tentu saja ada Galih, the only man in this group. Itulah teman-temanku yang sangat kompak di IKM ini.

Seminggu awal, kegiatanku cuma bimbingan di fakultas sama staff IKM yang baik hati dan banyak memberikan ilmu. Pernah ya, dalam sehari aku bimbingan dari pagi sampe sore sama salah satu Profesor di fakultas. Dan itu capek banget…bener-bener udah nggak konsen sama materinya, dan materinya itu tentang statistik yang udah jelas aku males banget buat mempelajarinya…nggak ngerti aku sama ilmu satu itu…I don’t know why..T__T

Nah, minggu kedua, adalah minggu pertama puasa. Kami pun udah mulai belajar di  luar fakultas. Kebetulan pas diundi kami dapet di daerah Sukoharjo. Otomatically, selama lima minggu ke depan kegiatan kami full di daerah tersebut. Tiga hari awal kami belajar di DKK Sukoharjo. Cukup banyak pelajaran yang bisa diambil. Jadi tahu, ternyata dunia per-DKK-an itu seperti itu. Bener-bener administratif, sibuk, dan tiap hari kerjaannya membuat dan mengevaluasi semua kebijakan-kebijakan dalam bidang kesehatan (nggak tipeku banget deh kayaknya…T_T). Di DKK kami dibagi jadi dua kelompok kecil, yang itu artinya masing-masing kelompok akan ditempatkan di puskesmas yang berbeda. Kelompok si Ucha yang terdiri dari Dita, Irma, dan Nina dapet di Puskesmas Polokarto. Lumayan deket. Sekitar setengah jam katanya kalau naik mobil dari kampus. Nah, kalau kelompokku, kebetulan dapet puskesmas yang paling jauuuh…di Kecamatan Weru…dan di sana aku bareng sama Anis, Galih, dan Mba Sari. 

Masuk ke tiga hari berikutnya dalam minggu kedua itu, kami belajar di RSUD Sukoharjo. Banyak hal yang kami pelajari juga di sini. Terutama tentang Sistem Kesehatan Nasional yang mengacu pada Referal System alias Sistem Kesehatan berjenjang. Bahasa gampangnya sih sistem rujukan. Jadi, ketika ada pasien sakit, mestinya di bawa dulu ke pusat kesehatan primer seperti puskesmas ataupun praktik dokter pribadi. Kalau bisa tertangani, cukup sampai di situ. Kalau ternyata butuh penanganan lebih lanjut atau misalnya kasusnya di luar kompetensi dokter umum, maka si Primary Health Care tadi harus merujuknya ke Secondary Health Care yang ada di atasnya, rumah sakit daerah misalnya. 

Nah, kalau masih belum bisa tertangani juga, barulah pasien di rujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang tertinggi yaitu Tertier Health Care, misalnya RS tipe A yang pelayanan kesehatannya udah holistik dan komprehensif. Nah, idealnya sistem kesehatan berjenjang itu mestinya begitu. Jadi nggak bisa langsung main lompat gitu aja. Kecuali kalau kasusnya darurat, itu lain ceritanya. 

Salah satu topik asyik yang jadi bahan kami diskusi adalah tentang sistem jamkesmas. Ini sih udah sering aku jumpai di RS tempat aku biasa coass pas di Solo. Tapi selama ini aku cuma sebatas tahu jamkesmas karena itu ada kaitannya sama jenis resep yang diberikan pas di RS Solo dulu. Misalnya, pasien jamkesmas resep obatnya warna kuning, resep pasien Askes warna hijau, kalau resep pasien umum dan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) yang warna pink. Udah, aku taunya cuma sebatas itu. Kenapa dibedakan warnanya? Ya itu sih ada hubungannya dengan fasilitas dan jenis obat yang diberikan untuk pasien jamkesmas yang tentu aja beda dengan kalau bayar pakai cara lain. 

Misalnya, pasien jamkesmas itu selalu masuk kamar kelas III, nggak boleh kamar kelas II atau malah kelas I, terus jenis obatnya pun udah dijatah. Kalau misalnya dapet obat yang di luar daftar obat jamkesmas, udah pasti nggak bakal dapet. Ya ibaratnya, ada konsekuensi yang harus diterima kalau kita menggunakan fasilitas dengan gratis…tis…tis! 

Nah, tentang jamkesmas cuma yang superfisial gitu aja yang aku ngerti. Kalau ribetnya RS dan DKK mengatur klaim jamkesmas, jujur, aku masih belum terlalu paham. Tapi, alhamdulillahnya, di IKM ini aku belajar itu…jadi udah jauh lebih pahamlah sekarang, meskipun ga dalem-dalem amat). Kan emang di IKM ini kita –sebagai calon dokter- belajar tentang managerial sebuah sistem kesehatan seperti yang udah termaktub dalam Five Stars Doctor-nya WHO. Sedikit dibahas boleh deh yaa…Apa sih five Stars Doctor itu???


Five Stars Doctor adalah sebuah paradigma yang sebetulnya udah dibentuk sejak zaman Hipocrates dulu, yang kemudian di masa sekarang paradigma itu mulai didengung-dengungkan, bahkan udah dicanangkan bahwa semua dokter umum harus mampu memiliki lima sifat yang ada dalam five stars doctor itu. Intinya adalah, ada lima hal yang membuat seorang dokter itu dikatakan baik. Apa aja? 

  1. Care Provider. Nama Indonesiannya adalah penyedia layanan kesehatan. Seorang dokter mestinya harus mampu menyediakan sebuah pelayanan kesehatan ketika ada pasien yang membutuhkan pertolongannya. Ya mestinya tugas dokter kan emang itu, ya nggak?
  2. Decision-maker. Maksudnya adalah pembuat keputusan. Bayangin kalau sebagai dokter kita menemui kasus darurat yang butuh penanganan segera. Kita nggak mungkin kan harus buka buku dulu, atau searching di internet dulu, atau tanya sama dosen dulu. Ya iyalaah..!!! Keburu pasien kita sekarat kalo gitu caranya. Nah, inilah yang membuat seorang dokter beda dari profesi lainnya. Karena terkadang dokter dituntut cepat dan tepat untuk membuat keputusan apalagi jika di depannya udah ada pasien yang sedang meregang nyawa. Jadi, dokter kok angel yooo ternyata, hiks!
  3. Communicator. Nah, ini keterampilan yang susah-susah gampang, gampang-gampang susah. Sampe sekarang aja aku masih belum bisa menguasai keterampilan ini secara sempurna. Padahal komunikasi itu hal yang sangat vital dalam hubungan dokter-pasien. Dokter perlu mempersamakan persepsi antara dirinya dengan pasien. Misalnya gini nih, suatu saat kita sebagai dokter ketemu sama pasien yang orangnya katrok banget, nggak ngerti teknologi, bener-bener awam, mestinya cara kita menerangkan sakitnya beda dengan kalau pasin kita seorang guru besar, yang tiap hari kerjaannya ngisi seminar sana sini, masa komunikasinya mau sama??? Jelas beda kan??? Trus misalnya kita ketemu sama pasien kanker yang udah stadium 4, yang udah tinggal menunggu waktu dijemput malaikat maut, hayoo…mesti butuh teknik-teknik komunikasi tertentu kan??? Nah, itulah pentingnya keterampilan komunikasi buat seorang dokter. Emang gampang-gampang susah dan susah-susah gampang sih. But, nggak ada kata terlambat buat belajar. Justru dengan kita banyak bertemu pasien dari situlah kita dapet banyak pelajaran. Iya nggak??? ^__^
  4. Community Leader. Dokter pastinya juga manusia. Dia hidup dalam masyarakat juga. Dan biasanya dokter dinilai agak punya nilai lebih dalam hierarki kemasyarakatan. Dan justru karena itulah omongan pak dokter dan bu dokter biasanya lebih didengar. Nah, peran seorang dokter salah satunya adalah pemimpin (dalam hal kesehatan) di kampungnya. Misalnya ada wabah DBD di suatu daerah, udah banyak anak kecil jadi korban, masa si dokter mau diem aja?? Nggak kaaan…Nah, dokter perlu bertindak –sebatas kompetensi yang ia punya- untuk menjadi pemimpin dan penggerak dalam bidang kesehatan di masyarakatnya.
  5. Manager. Bentar..bentar…ini mau cerita soal dokter apa mau cerita perusahaan sih? Eh, jangan salah ya, dokter itu juga dituntut buat jadi manager yang baik lho. Kenapa ini penting? Bayangin aja. Semandiri-mandirinya seorang dokter, ia nggak mungkin kerja sendirian. Ia tetap butuh perawat, butuh bidan, butuh teman sejawat lain, butuh tenaga administrasi, dan banyak orang lainnya (ini kalau di puskesmas ya). Contoh gampangnya lainnya deh, tim operasi. Ada operator 1, operator 2, asisten 1, asisten 2, terus ada perawat yang ngurusin surgery tools-nya, terus ada dokter anestesinya, dll. Jadi dokter nggak mungkin kerja sendiri. Dia perlu keterampilan jadi seorang pengatur alias manager yang handal. Dan itu butuh belajar…belajar…dan terus belajar..
Nah, dari lima sifat dokter bintang itu, community leader dan manager adalah keterampilan yang akan aku pelajari di Stase IKM ini. Tapi, kayaknya aku nggak bisa nulis semua deh dalam satu postingan. Jadi aku bikin bersambung aja ya ceritanya. Hehe..biar seru dan penasaran. Oke?? Untuk cerita IKM jilid 2, harap menunggu dengan sabar yaaaa…arigato gozaimashita ^___^v

Sabtu, 17 September 2011

Interna...Oh...Interna


Bismillaahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum. Ketemu lagi deh, he..he..Moga2 nggak bosen ya baca tulisan-tulisanku. Nah, di postinganku kali ini aku mau menceritakan tentang pengalamanku di stase kedua saat kepaniteraan klinik di sebuah RS negeri di Kota Solo yang damai dan tenang ini. Setelah stase bedah berlalu, namaku dan beberapa teman-teman yang sekelompok denganku akhirnya tercatat sebagai coass ilmu penyakit dalam atau bahasa kerennya sih, INTERNA.
Stase ini juga termasuk stase besar, jadi waktu belajarnya lumayan lama, yaitu 8 minggu. Cuma, ada perbedaan yang cukup signifikan antara stase bedah dengan stase interna yang aku alami kemarin. Selain dari segi ilmu yang dipelajari berbeda, stressor yang dihadapi, tugas yang harus dikerjakan, dan aktivitas tiap harinya juga bedaaaaaa banget. Yang jelas, pas masuk interna awal-awal, aku banyak-banyak adaptasi deh!
 Salah satu beda interna dengan bedah pas zamanku kemarin adalah, di interna nggak ada pembagian sub-sub stase seperti halnya bedah. Sebenarnya cukup disayangkan sih (menurutku), soalnya ilmu di penyakit dalam itu banyaaaaak banget, dan alangkah lebih efektifnya jika penyakit yang bejibun jumlahnya itu dibagi dalam masing-masing sub, seperti sub hemato, sub kardio, sub reumato, dll, jadi kan belajarnya lebih enak dan sistematis. Tapi itu kembali ke kebijakan masing-masing SMF / bagian juga, kita sebagai coass sih hanya bisa menjalani dan belajar dengan sebaik-baiknya.
Untuk di interna sendiri, pembagiannya tiap minggu berdasarkan pada urutan bangsal, poli, dan laboratorium, oh iya..ada juga stase luar di RS Boyolali, cuma, waktu itu aku termasuk yang nggak dapet boyolali. Sebenernya aku pengen lho, soalnya kalau stase luar gitu coassnya bener-bener dilepas untuk merawat dan mengobati pasien (di bawah pengawasan staff tentunya), dan enaknya, coass yang dapat stase luar langsung dibimbing sama staff di RS itu. Tapi aku percaya, pasti ada hikmah kenapa aku nggak dapet stase luar, salah duanya, aku bisa ngejar syarat kasus kecil tepat waktu dan nggak kepontal-pontal, dan alasan lainnya (ini kelemahanku sih) aku bukan tipe orang yang betah lama-lama tinggal di luar rumah apalagi di tempat baru, soalnya aku homesick-an orangnya, he..he..(ini nggak perlu dicontoh ;p). Nah, mau tahu kisahku di interna seperti apa? Yuk..lanjut bacanya..
Hari pertama masuk interna, jujur, aku kaget sekaligus seneng. Soalnya masuknya jam 8 dan itu belum ngapa-ngapain. Cuma dibagiin logbook, bimbingan sama salah satu staff, habis itu pulaaaangggg….duh, happy banget deh bisa pulang pagi, jarang-jarang coass (apalagi stase besar) bisa pulang di bawah jam 12, dan asyiknya lagi “saat-saat kebebasan” itu berlangsung sampai hari-hari berikutnya di minggu pertama.

Nah, masuk ke minggu kedua, saatnya mengucapkan good bye sama yang namanya pulang pagi. Maklum aja, mulai minggu kedua ini, aku udah mulai sibuk sama yang namanya ngejar syarat buat ujian. Di interna ada syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya kita bisa ujian. Syaratnya itu ada lima kasus kecil, satu refrat, dan satu kasus besar. Untuk kasus kecil itu, aku ngerjain sendirian soalnya emang tugas individu, jadi ceritanya kita bikin laporan kasus dari pasien yang kita ajuin ke staff dan staff udah ACC kasus itu, nah habis itu kita bikin laporannya, terus setelah jadi mentahnya kita konsulin dulu ke residen. Nah, kadang di residen ini butuh waktu lebih dari sekali buat revisian, kalau udah fix, baru deh kita maju ke staff dan siap buat ditanya-tanya. Mantep kan?! Di sinilah ada istilah interna menang otak dibanding otot, soalnya kepala kita emang kudu berisi dulu sebelum maju ke staff, biar kalo kita ditanya-tanya kita nggak ngah-ngoh gitu deh, intinya sih MUSTI BELAJAR !!!!
Untuk refrat dan kasus besar dikerjainnya kelompok, jadi lebih enak, cuma ya itu, harus diujikan di depan staff dan di depan temen2 coass yang lain, so kudu siap-siap dengan pertanyaan yang banyak. Teteeeuup, prinsipnya di interna itu belajar…belajar…dan terus belajar..hehe. Tapi, justru itu yang aku suka dari interna. Atmosfir yang ada si stase ini beda banget sama pas di bedah. Kalau di bedah dulu coass lebih banyak diam dan nurut sama apa yang harus mereka pelajari. Tinggal terima aja pokoknya. Kalau di interna, prinsip kebebasan berpendapat, kebebasan berpikir, kebebasan mengkritisi suatu keputusan medis, itu hal yang lumrah dan wajar, bahkan malah cenderung diharuskan! So, rasanya kaya balik ke pas zaman kuliah dulu, ketemu tutorial, saling bertanya, saling mengkritisi, dan kembali berdiskusi. Like this deh! d^^b
Di interna aku belajar banyak kasus, terutama kasus yang sering ditemui oleh dokter umum, semisal diabetes mellitus, hipertensi, PPOK, asma, gagal jantung, gagal ginjal, PJK, sirosis hepatis, hiperlipidemia, anemia, demam tifoid, ISK, dll, juga kasus-kasus yang jarang bisa ditemuin kaya HIV/AIDS, SLE, hepatoma, leukemia, dll. Di sini aku bener-bener nemuin pasien-pasien secara langsung, anamnesis mereka, pemeriksaan fisik ke mereka, dan mencoba memahami hasil pemeriksaan penunjang yang sudah mereka lakukan. Belum lagi aktivitasku sama temen-temen tiap pagi adalah follow up pasien meliputi vital sign dan SOAP lewat metode POMR (Problem Oriented Medical Record). Metode ini menurutku lumayan sistematis dan efektif untuk follow up pasien, soalnya tiap hari kita perlu menggali keluhan pasien dan melihat hasil pemeriksaan penunjangnya, jadi assessment atau diagnosisnya bisa aja berubah, intinya metode ini dibuat supaya tidak ada keluhan atau masalah pasien yang terlewat untuk ditatalaksana. 

Aku juga bersyukur, di interna ini aku dapat partner yang sangat membantu aku belajar. Ada Ucha yang pinter dan jago pemeriksaan fisik dan ada Dita yang rajin belajar dan kemampuan analisisnya sangat bagus. Ada cerita unik nih!. Ceritanya, waktu itu aku lagi ngerjain kasus kecil pertamaku, kebetulan aku dapet pasien dengan candidiasis oral dan ada batuk berdahak lebih dari empat bulan. Sekilas lihat keluhan pasien dan lihat kondisi pasiennya, aku udah curiga, jangan-jangan ini pasien B24 atau B20. Akhirnya setelah aku lihat statusnya, eh iya! Dia positif B24, soalnya dia belum sempat ditest rapid test untuk HIV, jadi B20 nya belum tegak.
Permasalahan terjadi ketika aku, Ucha, dan Dita pengen menganamnesis pasien tersebut berkaitan dengan riwayat gimana dia bisa tertular virus mematikan tersebut. Logika kami waktu itu, ada tiga kemungkinan penularan HIV. Satu, lewat hubungan seksual. Dua, lewat kontak darah, entah itu jarum suntik, penggunaan narkoba, atau bisa aja transfusi, riwayat pakai tato, dll. Tiga, penularan vertikal dari ibu ke anak (yang ketiga ini jelas nggak mungkin, soalnya pasiennya cowok dan dia nggak mungkin mengidap HIV dari bayi masih hidup aja sampe sekarang, makanya kami eliminasi sejak awal).
Dan ternyata oh ternyata, pasien itu juga nggak ada riwayat kontak dengan yang namanya jarum suntik, saudara-saudara….Jadi, jelas! Tinggal hubungan seksual lah transmitternya. Nah, masalah baru muncul lagi. Gimana caranya, menganamnesis pasien biar dia cerita kalau dia pernah “jajan”, itu yang susah! Apalagi pasiennya agak nggak kooperatif waktu itu. Dia sangat sensitif dan cenderung menyangkal. Kita yang mau anamnesis jadi bingung sendiri. Duh gimana neeee….!!!
Akhirnya sang penolong datang juga. Ada salah satu residen interna yang waktu itu mengurusi bangsal yang sama dengan kami. Kami pun minta tolong sama residen itu buat diajarin cara anamnesis pasien untuk cerita pernah nggak dia “jajan”. Akhirnya sang residen pun menyanggupi dan dia mulai beraksi. Awalnya residen itu ngajak si pasien salaman terus minta izin dulu baik-baik. Terus dia mulai tanya-tanya dengan jurus anamnesis mautnya. Dan tiba-tiba pasien bisa keluar ceritanya. Wow!! Ternyata pasien itu pernah tinggal di Irian buat jualan sepatu setelah ditinggal mati istrinya, akhirnya ia pun merantau, dan di pulau rantauan itu ia kadang-kadang “jajan” sama beberapa wanita PSK di sana. Jadilah ia tertular penyakit itu.

Pelajaran yang bisa aku ambil dari kisah ini : ternyata jadi dokter itu bukan hanya membutuhkan obat dan pisau bedah, tapi dokter juga dan sangat butuh yang namanya kata-kata. Gimana ia menarik perhatian dan kepercayaan pasien, gimana ia menjalin hubungan sambung rasa dengan pasien, gimana ia berempati tanpa bersimpati pada pasien, gimana ia bisa menggali sebuah petunjuk dari ribuan cerita dan keluhan pasien untuk menegakkan diagnosis, di situlah! Di situlah, peran seorang dokter sebenarnya berawal. Dan dari residen itu aku belajar. Makasih dok, ilmunya J
Sebenernya banyak banget kisah di interna yang ingin aku tulis. Tapi ntar nggak habis-habis dong ya. Pokoknya interna teh seru pisan, euy! Apalagi pas minggu terakhir sebelum ujian, wuihhh!!! Gempor kaki kami, saudara-saudara! Kok bisa? Ya iyalah! Bisa dibilang minggu ketujuh itu minggu hidup dan mati (buat ngejar syarat). Tiap hari kegiatannya selain follow up adalah menunggu, mencari, dan mengejar staff.
Nah, jadi pengen cerita lagi nih! Ehehe..nggak papa ya :P
Ceritanya waktu itu mau cari staff buat maju kasus kecil, sebenernya aku sama temen-temen yang sekelompok sama aku udah maju sih, cuma kurang ngumpulin PR dan minta tanda tangan staffnya aja, tapi ternyata banyak temen-temen lain yang juga butuh tanda tangan staff itu, ya senior, ya junior, hari itu kayaknya semuanya pada kompakan nyari sang dosen tersebut. Beliau ceritanya lagi jadi satu-satunya orang yang most-wanted buat coass-coass interna. Hampir semua coass dilibatkan untuk standby di tempat-tempat yang kira-kira dokter itu sering mangkal. Ada yang nunggu di ruang hemodialisa (HD), ada yang nunggu di anggrek 4, ada yang nunggu di poli cendana, ada yang nunggu di poli interna, semuanya gerilya, berjaga-jaga! Tiba-tiba sebuah jarkom berbunyi yang mengabarkan sang dokter ada di ruang HD S-E-K-A-R-A-N-G! Jadilah, puluhan coass interna berduyun-duyun ke ruang HD, tapi ternyata penonton kecewa! Sang dokter –entah lewat pintu mana dan berjalan dengan sangat cepat mungkin saja-- tiba-tiba keluar dari ruang HD meninggalkan puluhan coass yang menanti untuk minta tanda tangannya (dah kaya artis dikerjar fans dan paparazzi aja, hehe). Akhirnya pengejaran pun di mulai. Alhamdulillahnya, ada salah satu dari kami yang sempat melihat sang dokter berjalan ke arah bangsal Melati, kamipun memutuskan untuk mengikuti, tentunya dibatasi jarak sekitar 10 meter di belakangnya. Dah kaya detektif gitu deh! Haha.
Eh, ternyata sang dokter naik tangga, naik terus sampai ke bangsal cendana. Kamipun masih dengan setia di belakangnya. Dokter itu visit dan kami menunggu. Lalu sang dokter melanjutkan perjalanannya ke bangsal anggrek dan kami pun kebat-kebit mengejarnya. Kalau inget kejadian itu aku pengen ketawa. Soalnya hampir semua orang yang ngeliat kami pada heran. Pemandangannya emang lucu banget sih! Sampai-sampai ada komentar :”busett…dokter X ekornya panjang banget” gara-gara ngeliat satu dokter diikuti oleh puluhan coass yang semuanya berderet nyaris dari bangsal anggrek sampai cendana. Yang kalo mau ngukurin pake meteran (kurang kerjaan banget ya, hehe), itu benar-benar panjang ekornya. Hehe.

Yahhh…Alhamdulillah. Itulah interna yang berkesan. Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari kisah interna saat itu. Semoga aku bisa mengambil hikmah dan ibrah dari setiap aktivitasku. Yang baik monggo diambil, yang jelek monggo dibuang. Sampai ketemu di tulisanku berikutnya. Ditunggu yaaahhh ^___^

Rabu, 14 September 2011

the Hectic Surgery



Bismillahirrohmaanirrohiim

Assalamu’alaikum  ketemu lagi di tulisanku yang baru. Kali ini demi memenuhi janji, aku akan menulis tentang pengalamanku selama menjalani dunia coass di sebuah RS negeri di Solo. Nah, seperti yang udah aku tulis sekilas di postinganku sebelumnya, stase pertama yang aku lewati di dunia per-coass-anku adalah termasuk dalam stase besar, yaitu SURGERY alias BEDAH.
Sebelumnya nih, apa sih image yang terbayang di benak kamu ketika mendengar kata bedah? Pasti di benak kamu ngebayangin ada beberapa dokter berseragam warna hijau plus masker dan sarung tangan (handscoen), masing-masing bawa pisau bedah, iris sana, jahit situ, penuh tetesan darah di mana-mana, bau alkohol menyeruak di seluruh ruang operasi, khas banget sama yang namanya kata bedah. Iya nggak? Well, image itu emang nggak jauh beda sama yang aku lihat selama stase bedah di RS kemarin.
Selama 8 minggu itu, aku dibagi dalam beberapa sub-sub bagian bedah. Ada bedah orthopedi, bedah plastic, bedah digestif, bedah urologi, bedah thorax-kardiovaskuler, bedah anak, bedah onkologi, dan bedah saraf. Itu semua adalah stase yang aku lalui selama menjalani stase bedah. Yuk, simak satu-persatu ceritanya masing-masing ^__^
  1. Bedah orthopedi. Nah, ini adalah substase bedah yang paling pertama aku pelajari. Aktivitasnya cukup santai sih, nggak banyak tugas, dan yang jelas ilmunya lumayan menarik (buat aku ^^), apalagi kalau pas di OK IBS lihat para staff dan residen lagi operasi kasus bedah ortho, wuihh…keren bo’! Bedah orthopedi ini adalah bagian dari ilmu bedah yang mempelajari sistem musculoskeletal, jadi urusannya nggak jauh-jauh sama yang namanya otot dan tulang. Aku masih inget banget, kasus pertama yang aku saksikan di OK ortho waktu itu adalah rupture tendon otot jempol tangan. Wah, baru pertama kali masuk ruang OK langsung liat kasus yang jarang dan kesulitan operasinya cukup tinggi, apalagi ini yang ruptur adalah otot jari tangan yang pastinya vital buat kerja. Alhamdulillahnya, di ortho ini aku dapat kakak senior yang baik hati dan mereka lumayan banyak membantu, jadi nggak terlalu kagok sebagai coass anyaran, he..he..
  2. RSOP. Aku bersyukur banget substase keduaku di bedah adalah stase RSOP alias stase luar di RS Orthopedi Dr. Soeharso. Kenapa bersyukur? Ada dua alasan, satu, jarak RSOP sama rumahku cuma lima menitan kalau naik motor. Dua, ilmu yang aku pelajari di sana nggak jauh-jauh sama yang aku pelajari di stase orthopedi, tetap masalah otot dan tulang. Aku cukup banyak belajar di sini, terutama belajar memasang gips untuk berbagai macam fraktur dan kelainan kongenital seperti talipes equinovarus yang banyak jumlahnya pada bayi baru lahir, belajar memasang traksi pada fraktur sendi panggul, bantu aff jahitan untuk open fractur, baca rontgen kasus-kasus bedah ortho, dll. RSOP, asyik laaah…hehe 
  3. Bedah Plastik. Nah, ini stase yang katanya tergolong paling berat dibanding substase bedah lainnya. Kenapa? Soalnya dosennya sangat disiplin dan nggak pelit buat ngomong “crash” ke koassnya. Jadi, para coass bener-bener harus jaga sikap dan attitude di substase plastik ini. Selain itu, tugas preskas dan refrat yang diberikan di stase bedah plastic ini juga seabrek banyaknya. Kalau banyak jumlah dan halamannya sih nggak masalah ya, dikerjakan seminggu juga selesai. Nah, masalahnya semua preskas dan refrat yang tebelnya segambreng itu harus selesai dalam waktu semalam! Bisa dibayangin kan, malam-malamku di plastik dihiasi dengan begadang. Aku inget banget, pas lagi nyelesaiin tugas refrat di plastik, aku cuma tidur setengah jam semalam, itupun dari jam setengah 4 pagi sampei jam 4 doang. Tempor banget deh. Pokoknya. Tapi, di plastik ini aku juga banyak belajar tentang kasus-kasus bedah plastik, seperti luka bakar, bibir sumbing, dan trauma maksilofasial.
  4. Bedah digestif. Nah, ini adalah substase yang datangnya paling pagi. Bedah digestif adalah bagian dari ilmu bedah yang mempelajari sistem digestif dan organ-organ gastrointestinal. Hari pertama aku datang ke RS sebelum shubuh dan sempet sholat shubuh di RS, soalnya aku takut telat visit dokternya. Tapi Alhamdulillah visit digest berjalan lancar dan aku nggak telat (ya iyalah, datangnya aja gasik banget -___-“). Di stase ini hampir tiap hari berangkat pagi untuk maju preskas dan diskusi dengan dokter bedah digest yang jadi pembimbing kami. Emang berat sih harus dating pagi-pagi, tapi justru dari diskusi pagi-pagi buta itulah sang dosen banyak mentransfer ilmunya padaku dan teman-teman. Waktu itu aku dapat kasus pasien dengan kanker caput pancreas yang gejalanya ada ikterik. So interesting knowledge…
  5.  Bedah Urologi. Ini termasuk stase yang ilmunya aku suka juga. Belajar soal sistem perkencingan mulai dari ginjal sampai ke uretra. Ilmunya simpel, organ yang dipelajari dikit, tapi pasiennya banyak. Kalau mau bicara untung-rugi, ambil subspesialis bedah urologi ini cukup prospektif lho di masa depan nanti. Jangan salah, jumlah pasien yang kena batu saluran kencing, kanker prostat, hyperplasia prostat jinak, dan kanker buli-buli, jumlahnya banyak banget di poli bedah uro ini. Dan hampir semuanya pasiennya adalah laki-laki. Itu sih yang kadang bikin aku (sebagai cewek) agak nggak nyaman memeriksanya. Nah, di OK uro aku sempet melihat operasi BPH dengan cara TURP (Trans Urethral Resection Prostat), cara operasinya pake semacam kawat yang dialiri arus listrik, dimasukin ke uretra dan prostat yang membesar itu dikerok lapis demi lapis. Untuk membantu jalannya operasi, tentu nggak bisa pakai mata telanjang, butuh bantuan sistoskopi yang gambarnya ditampilin di monitor. It’s awesome ^__^ 
  6. Bedah Thorax-Kardiovaskuler. Ini stase yang banyak banget ilmunya dan hampir semuanya banyak manfaatnya buat dokter umum, terutama ilmu tentang Basic Life support ala ATLSnya. Yang bikin aku suka sama stase ini adalah ada salah satu dosenku yang masih muda tapi nggak pelit ilmu dan selalu ngajarin kita. Dokternya baik banget deh pokoknya! Kasus paling berkesan yang aku jumpai di stase ini adalah kasus tumor mediastinum yang dugaan kuatnya berasal dari tymoma. Kenapa kasus ini berkesan? Soalnya pasien sempat henti jantung pas mau dipasang ET, jadilah setengah proses operasi di IBS waktu itu diganti dengan tindakan RJPO. Semua residen, dokter anestesi, dan dokter bedahnya sendiri semua turun tangan. Tapi, sayang Allah berkehendak lain, pasiennya akhirnya “plus” alias meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.
  7. Bedah Anak. Seperti bedah thorax, bedah anak ini juga stase pendek. Cuma tiga hari dengan kasus-kasus bedah anak yang banyak dan nice to know untuk kompetensi dokter umum. Yang paling berkesan di sini adalah pas aku main ke KBRT untuk melihat pasien bedah anak yang rencana mau dioperasi. Seorang bayi dengan omphalocele sebesar 7 cm. Hiks! Rasanya pengen nangis lihat bayi mungil gitu harus dioperasi.  
  8. Bedah Onkologi. Di antara substase bedah lainnya, mungkin sub onkolah sang juara dalam hal jumlah pasien. Ironis ya! Dilihat dari jumlah pasien poli, pasien bangsal, pasien di OK, dan pasien yang antri kemo, bisa diamati bahwa dari hari ke hari kasus kanker, neoplasma, dan degenerasi makan bejibun aja jumlahnya. Sekarang kanker udah nggak pandang bulu, pasiennya bukan hanya orang tua aja, banyak lho kasus-kasus kanker yang menyerang pasien dengan usia kurang dari 40 tahun.
  9. Bedah saraf. Nah, akhirnya tiba juga di stase terakhirku di bedah. Di sub ini aku banyak kebagian di IGD dan di poli. Kasusknya lumayan banyak juga, terutama kasus-kasus KLL dengan trauma kepala yang perlu dicraniotomi segera buat evakulasi perdarahannya. Salut buat dosen-dosenku di bedah saraf yang keren dan mumpuni ilmunya.
 Nah, itulah cerita singkat pengalamanku di stase bedah. Yang jelas di stase ini aku belajar banyak. Terutama belajar kasus-kasus baru yang aku temui (yang sebelumnya cuma bisa aku baca di textbook) yang tentunya bisa menambah pengalaman buat aku. Semoga bermanfaat suatu saat nanti. Bedah, memang hectic dan melelahkan, tapi terlalu manis untuk dikenang :).

Selasa, 13 September 2011

Finally...COASS !!! ;)


Bismillahirrohmaanirrohiim

Wah, lama juga ga nulis, he..he..Padahal ide dan pengalaman hidup yang aku temukan udah berseliweran aja di kepala, tapi mood dan semangat menulisnya kadang yang susah memunculkannya. Emang ini kelemahannya orang yang moody-an kaya aku. Ketika semangat sedang naik bener-bener bisa berjam-jam tahan nulis. Tapi pas mood lagi drop, hmmm..satu huruf aja nulisnya malesnya minta ampun..

Oke deh, cukup keluh kesahnya. Lewat tulisan ini aku juga nggak mau mengeluh banyak-banyak soal semangatku yang masih fluktuatif. Aku pengen cerita tentang pengalamanku selama hampir enam bulan menjalani kepaniteraan klinik di rumah sakit negeri di Solo.

Well, selama hampir 6 bulan jadi coass di RS aku ngerasa banyaaak banget pelajaran hidup yang bisa diambil. Ternyata emang bener, bahwa dunia nyata di luar sana emang beda dengan apa yang tertulis di textbook, di kuliah, di cakul, dan di buku. Dunia nyata itu lebih susah terprediksi, unik, penuh tantangan, dan yang jelas setiap dinamikanya banyak hikmah dan pelajaran.

Selepas wisuda sarjana kedokteran kemarin, euphoria menyandang gelar S.Ked nggak bisa aku nikmati lama-lama. Soalnya aku langsung masuk stase paling horor (katanya) dan cukup lama masa belajarnya. Namanya juga stase besar. Jadilah, aku masuk stase bedah bareng temen-temen 2007 yang satu kelompok dengan aku. 


Untuk penentuan urutan stase angkatanku ini untungnya beda sama pas zaman kakak tingkatku sebelum-sebelumnya. Kalau pas di angkatanku kemarin, penentuannya berdasar kumulatif nilai IP dan nilai ujian komprehensif. Alhamdulillahnya, aku termasuk urutan yang awal-awal. Tapi ya itu, langsung masuk stase besar. SURGERY.

Di bedah ini aku sama temen-temen harus menempuhnya selama 8 minggu. Itu udah diregresi dari sistem lama yang dulunya 10 minggu. Well, 8 minggu itu bukan waktu yang sebentar lho, kadang hari demi sehari dirasakan sangat lama dan berjalan lambat. Tapi, ternyata pas akhir-akhir ngerasa juga kalau waktu berjalan cepat. Tau-tau udah mau selesai aja. He..he..Oh iya, buat kisahku di stase bedah secara lengkap bakal aku critain di tulisan selanjutnya yaa..Maklum, harus eksklusif ceritanya..He..he..

Masuk ke stase kedua, lagi-lagi aku masuk stase besar. Welcome to INTERNA :)
Stase interna waktunya juga sama kaya bedah, 8 minggu. Bedanya lebih ke mekanisme kerjanya. Kalau bedah cenderung banyak pakai otot (buat berdiri di OK selama berjam-jam), kalau di interna menang di otaknya (soalnya harus mikir semua problem pasien, tau sendiri kan penyakit dalam itu penyakitnya seabrek banyaknya, belum pemeriksaan penunjangnya, belum terapinya), tapi senengnya di interna kita jadi tahu cara diagnosis penyakit dan kelebihan serta kekurangan dari pemberian suatu obat. Misalnya, obat A ini indikasi untuk ini tapi dia kontraindikasi untuk ini, terus bisa menurun efeknya jika dikombinasikan dengan obat B, dan sebagainya. Asyik deh pokoknya. 

Lanjut! Masuk ke stase ketiga. Stase yang katanya hura-hura, jalan-jalan, dan makan-makan. Tapi menurut aku stase ini adalah stase paling penuh perjuangan, selain karena pas stase ini aku pas lagi mendapati bulan ramadhan. He..he…Coba tebak stase apa hayo???
Stase IKM. Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Untuk stase ini aku bener-bener nggak berurusan sama yang namanya urusan klinis di RS, soalnya di stase ini aku lebih ke belajar manajerial sebuah sistem kesehatan. Mungkin di antara stase lainnya, pelajaran yang bisa aku ambil di sini banyak, nanti deh aku certain secara eksklusif di tulisan selanjutnya, ditunggu aja yaa…:D

Nah, sekarang aku lagi menjalani stase keempatku. Stase yang kadang pengen bikin aku mengelus dada, soalnya pasien-pasien di sini beda sama pasien yang aku temui di stase lainnya. Bedanya apa? Nah, bedanya itu dari penyakitnya. Kalau sebelumnya, aku sering nemuin pasien yang sakit fisiknya, di stase ini hampir semua pasien fisiknya pada oke punya dan masih sehat semua, cuma jiwa mereka yang nggak sehat. PSIKIATRI a.k.a JIWA, itulah stase keempat yang aku jalani selama koass ini. Bisa dibayangkan pasiennya kaya apa??? ^__^

Nah, mungkin ini dulu tulisanku saat ini, cukup panjang ya?!
Gapapa deh yaa…itung-itung buat pemanasan nulis lagi..He..he..
cerita selengkapnya untuk tiap-tiap stase tunggu saja yaaa…Sampai jumpa di tulisan selanjutnya…

130911
Masih berjuang mengumpulkan semangat yang terserak
Cemungudh
\(^o^)/